RSS

Arsip Kategori: Next Generation

Kids

Tips Mengatasi Anak yang Sulit Dikontrol & Suka Nangis

 

 

img


Jakarta – Dalam berita sebelumnya, dua psikolog anak Jacob Azerrad dan Paul Chance dalam tulisannya di Psychology Today, sudah menjelaskan kenapa anak sulit dikontrol dan suka menangis. Kini mereka menjelaskan lebih lanjut bagaimana caranya mengatasi anak dengan perilaku tersebut?

Menurut Jacob dan Paul, selama ini orangtua lebih memperhatikan sikap buruk anak ketimbang perilaku baiknya. Seorang konsultan pendidikan Glenn Latham, Ed.D menemukan dalam risetnya orang dewasa cuek pada 90% sikap baik anak-anak. Mereka justru lebih memperhatikan anak-anak saat mereka bertingkah laku tidak baik.

Memang selama ini cukup banyak pakar pendidikan anak yang menyarankan orangtua untuk memperhatikan anak saat mereka bersikap buruk. Misalnya saja dokter anak Benjamin Spock, M.D. dalam bukunya ‘Dr Spock’s Baby and Child Care’ yang terjua; 40 juta kopi. Saran yang diberikannya:

“Kalau anak melakukan tindakan yang menyakiti orang lain, seperti dia merencanakan membunuhnya, bawa dia pergi dan buat dia tertarik pada hal lain”.

Menurut Jacob Azerrad dan Paul Chance, membuat anak tertarik pada hal lain justru semakin membuat mereka berperilaku agresif.

Memang sulit untuk mengubah apa yang selama ini Anda lakukan pada anak saat mereka menunjukkan sikap tidak baik. Namun bukan berarti itu tidak bisa diubah. Berikut beberapa cara yang disarankan Jacob Azerrad dan Paul Chance untuk mengatasi anak yang tidak dapat dikontrol:

1. Selalu perhatikan sikap anak yang menunjukkan dia mulai dewasa. Misalnya saja, bisa mengatasi rasa kecewa, bersikap baik secara spontan dan menunjukkan ketertarikan untuk belajar. Saat Anda melihat sikap-sikap itu, berikan mereka pujian.

2. Di waktu-waktu tertentu (5 menit sampai 5 jam setelah suatu kejadian), bicara ke anak soal sikapnya yang sudah Anda perhatikan sebelumnya. Anda bisa mengatakan, “Apakah kamu ingat tadi waktu Chika jatuh dari sepedanya dan dia susah berdiri lagi, kamu membantunya. Kamu ingat nggak”.

3. Saat anak ingat peristiwa yang Anda katakan pada poin kedua, beri dia pujian. Anda bisa mengatakan, “Kamu baik sekali tadi membantu Chika naik ke sepedanya lagi. Aku bangga padamu”. Pujian lain juga bisa Anda berikan saat dia menunjukkan kedewasaannya. Misalnya, “Ibu tahu kamu sedih nggak bisa pergi ke mall, tapi tadi kamu tidak marah. Ibu bangga”.

Usahakan Anda tidak mencampurkan antara memuji dan mengkritiknya. Jangan katakan “Aku bangga kamu membantu Chika, kamu kan biasanya jahat sama dia”.

4. Setelah memuji anak, langsung lakukan aktivitas yang disukainya. Lakukan aktivitas itu secara spontan tanpa Anda harus mengatakan kalau itu adalah ‘hadiah’ atas sikap baiknya. Anda bisa mengajaknya berjalan-jalan, main game atau membacakannya cerita. Harap diingat, jangan bagi perhatian Anda dengan hal lain saat melakukannya. Tidak ada yang lebih membuat anak bahagia selain mendapat perhatian penuh dari orangtuanya.

Semua langkah di atas memang tidak mudah diterapkan apalagi jika anak melakukan sikap buruk yang sangat mengganggu, misalnya memukul anak lain atau marah dan menangis sambil berteriak-teriak. Jika hal itu sudah terjadi, Anda bisa memberinya hukuman dengan ‘time out’.

Sayangnya menurut Jacob Azerrad dan Paul Chance, cukup banyak orangtua melakukan kesalahan saat memberikan ‘time out’. Ada orangtua yang memberikan anak ‘time out’ dengan menyuruhnya pergi ke kamarnya. Padahal di kamarnya anak bisa mengerjakan hal yang ia sukai.

‘Time out’ seharusnya membuat anak berada dalam situasi yang membosankan. Berikut cara yang bisa Anda lakukan misalnya saja setelah si kecil memukul temannya:

1. Katakan padanya: “Kita tidak memukul”. Ucapkan hanya tiga kalimat itu saja, tidak perlu memberikan penjelasan lebih lanjut.

2. Usai mengatakan hal itu, gandeng tangan anak dan dudukkan dia di kursi yang menghadap tembok kosong. Anda berdiri di dekatnya sehingga kalau dia akan pergi dari kursi tersebut, Anda bisa membawanya lagi ke kursinya.

3. Biarkan anak duduk di kursi itu selama tiga menit. Jangan katakan apapun padanya selama dia duduk di kursi itu. Kalau anak berteriak, menendang, memukul atau bertanya dan mengaku ingin pergi ke kamar mandi, diamkan saja. Sangat penting untuk tidak mengatakan apapun padanya.

4. Setelah tiga menit, biarkan dulu dia duduk di kursi sampai dia bisa tenang dan bersikap baik, selama beberapa detik. Saat dia sudah tenang, katakan kalau dia sudah bersikap baik dan boleh meninggalkan kursi. Jangan biarkan anak meninggalkan kursi kalau dia belum menunjukkan sikap baik selama beberapa detik.

5. Ketika time out sudah selesai dijalani, jangan bahas hal tersebut. Jangan diskusikan soal kenapa dia mendapatkan hukuman itu. Anda hanya perlu mengatakan pada anak sekali lagi, “kita tidak memukul”.

Saat anak sadar kalau Anda serius dan dia tidak bisa menarik perhatian Anda dengan sikap buruknya, proses ‘time out’ akan lebih mudah dan akan makin jarang dilakukan.

 

Sumber :

http://www.wolipop.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 19, 2011 in Next Generation

 

Pertumbuhan Balita

Umur bayi

Tahapan perkembangan

Hal yang disukai bayi

Waspada bila

0-1 bulan

Menunjukkan perilaku pemicu kasih sayang, menangis, meringkuk, mendekut, Mengangkat kepala, Tangan terkepal erat, Menangis, mendengkur, tersenyum, menangis di saat tidur, penglihatan masih buram , Tidur, bangun, makan, secara tidak menentu, Tingkah lakunya lebih sering dilakukan secara refleks Sentuhan kulit dengan kulit, digendong dengan tangan atau gendongan, makan tanpa dijadwal, mengadakan kontak mata, dan mendengar suara bunda  

2 bulan

Terhubung secara visual dengan bunda
Lengan dan kaki relaks, kepala diangkat setinggi 45 derajat, kepala masih terhuyung bila digendong dalam keadaan duduk
Sebagian jari mulai membuka, mulai dapat menggenggam giring-giring
Ia bisa menjerit, membuat suara seperti sedang minum, dada berbunyi
Tersenyum dengan responsif, bisa membaca suasana hati orangtua, sibuk dengan ibu jarinya, mengadakan kontak mata, memerhatikan orang yang bergerak, menangis bila diturunkan dari gendongan
Mulai senang berkomunikasi, protes bila kebutuhannya tidak terpenuhi, memberi isyarat.
Membuat asosiasi bahwa tangisan berarti digendong atau disusui
Digendong dalam kain gendongan, melihat ke arah yang bergerak, suka musik klasik, berbaring di dada ayah  

3 bulan

Memainkan tangan
Lengan dan kaki digerakkan secara sempurna, dapat membuat gerakan bebas dan memutar
Kepala diangkat lebih tinggi dari punggung, kepala bisa diangkat tegak saat digendong
Berguling
Sudah bisa menggoyangkan giring-giring, bisa mengisap ibu jari
Membuat suara lebih keras, mulai tertawa
Bisa menyebabkan orang bereaksi dengan senyum, tangisan, dan bahasa tubuh
Bersandar di dada bunda, bermain dengan tangannya sendiri, menunjuk ke sesuatu yang bergerak  

4 bulan

Bisa mengamati dengan akurat, sudah bisa mengangkat lengan ketika ingin digendong, tertawa geli bila digelitik
Bisa memeluk dengan dua tangan, menggenggam, memegang dada bunda
Mengangkat dada dan perut atas saat tengkurap
Tahu bahwa orang dan benda memiliki nama (contohnya kucing)
Menyapa si pengasuh dan mengajaknya bermain, memainkan jemari, bermain dengan mainan bayi, menggelindingkan bola, posisi menghadap ke depan bila digendong  

5 bulan

Meraih sesuatu dengan satu tangan
Berguling ke belakang, bisa melakukan posisi push-up, bisa mengjangkau jari kaki, mainan dapat dipindahkan dari tangan yang satu ke tangan lainnya dan ke mulut
Menengok ke arah orang yang berbicara, berusaha meniru suara-suara, tertarik pada warna, menggunakan tangan untuk mendorong bila ia sedang tidak mau diganggu
Mendorong dengan menggunakan kaki, memencet hidung bunda, menarik rambut, meraba dan menyembunyikan mainannya, duduk di kursi bayi dan bermain di pangkuan, bermain cilukba  

6 bulan

Duduk sendiri, berguling-guling, berdiri dengan berpegangan
Menunjuk mainan, sudah bisa menjumput
Senang akan suaranya: berteriak, tertawa, menggeram, serta meniru sikap wajah dengan lebih baik
Lebih lama bermain
Bermain dengan balok-balok, membanting mainan, diayun-ayun, bila digendong posisinya berubah menjadi di pinggang  

6-9 bulan

Merangkak, duduk tegak, mendorong badan ke atas sampai berdiri, menjumput denganibu jari dan telunjuk, makan sendiri (berantakan), menjatuhkan mainan
Terus merespon bila namanya disebut
Bergoyang seirama musik, bermain cilukba, memainkan makanan, permainan yang menggunakan kata-kata dan irama, menggelindingkan bola, tertarik pada objek kecil  

9-12 bulan

Sering merangkak, dari duduk bisa menjadi merangkak sendiri, berkeliling di sekitar perabotan, berdiri tanpa berpegangan, langkah pertama masih kaku, belum tegap
Menggenggam erat, menunjuk dan mencongkel dengan jari telunjuk, menumpuk dan menjatuhkan balok-balok, menunjukkan dominasi tangan
Mengatakan “mama” dan “dada”, mengerti kata ‘tidak’, mengerti sikap tubuh seperti melambaikan tangan
Menunjukkan ingatannya akan kejadian yang baru berlalu, ingat letak mainannya ketika tertutupi
Berhenti menangis ketika bertemu bunda, menunjukkan kegelisahan akibat perpisahan
Bermain dengan wadah-wadahan: mencampur, mengisi, menimbun. Merogoh isi kantong ayah, mengamati diri sendiri di depan cermin, membanting dan mencocokkan tutup dengan wadah, menumpuk dua atau tiga balok
  • Belum bisa merangkak
  • Belum bisa tengkurap
  • Tidak dapat mengambil barang yang berada di depannya
  • Belum bisa mengucapkan sepatah kata
  • Belum bisa menirukan gerakan tubuh, tidak bisa melambaikan tangan atau menggelengkan kepala
  • Belum bisa menunjuk barang atau gambar

12-15 bulan

Berjalan
Menggunakan peralatan seperti sikat gigi dan sisir, memegang botol, lebih gampang dipakaikan baju
Mengucapkan 4-6 kata yang dapat dimengerti, mengenali nama dan menunjuk ke orang yang ia kenal, tertawa saat melihat gambar lucu
Mulai mempelajari cara mencocokkan sesuatu
Mendorong dan menarik mainan ketika berjalan, melempar bola, permainan dengan menyentuh, mengosongkan laci dan mengmbil isinya, menjelajahi bahu ayah, berbicara pada mainan, meniru suara binatang  

15-18 bulan

Mengerti bahasa sederhana, mengendarai mainan beroda empat, mencoba menendang bola walau sering meleset, membuka laci, menurut ketika dipakaikan baju, mengonsumsi makanan berkuah
Mengatakan 10-20 kata yang bisa dimengerti
Mengamati bermacam bentuk, mengenali gambar di buku
Berlari walau kadang-kadang terjatuh
Mendorong kereta mainan, mengetukkan palu karet mainan, melakukan permainan bagian-tubuh “mana Hidung”, menari seirama dengan musik, memutar dan menekan kenop, bermain cilukba dan berkejaran
  • Belum bisa berkata setidaknya 15 kata

18-24 bulan

Lancar berjalan dan berlari, bisa memanjat keluar dari ranjangnya, membuka pintu, menaiki tangga tanpa bantuan
Mengerti bahasa sehari-hari
Membuka bungkusan, mencuci tangan, duduk di kursi tanpa bantuan
Mengatakan 20-25 kata yang bisa dimengerti
Mencari tahu segala sesuatu sebelum melakukannya, menggambar lingkaran, membuat garis, mengerti dua perintah sekaligus
Menarik kereta mainan, membantu di dalam rumah, berjungkir balik, berdiri di atas pijakan, menggunakan rak, meja, dan kursinya sendiri untuk bermain, “membaca” buku bergambar sambil membalik-balik halaman
  • Belum bisa berjalan
  • Setelah bisa berjalan, berjalannya abnormal
  • Belum bisa merangkai kalimat dari dua kata
  • Belum tahu fungsi alat-alat yang sering dipakai di rumah seperti telepon, sendok, gelas.
  • Belum mampu menirukan gerakan tubuh atau kata
  • Belum bisa menggerakkan mainan beroda.

3 tahun

Berdiri dengan satu kaki Senang bermain air
  • Masih sering terjatuh saat berjalan
  • Ucapannya tidak jelas
  • Belum bisa menyusun balok
  • Belum bisa berkomunikasi
  • Belum bisa bermain sebagai ayah/ibu
  • Belum bisa memahami perintah sederhana
  • Tidak tertarik pada anak lain
  • Susah berpisah dengan ibu.

4 tahun

Berlari, melompat, memanjat, naik sepeda roda tiga Menanyakan sederet pertanyaan setiap hari
  • Belum bisa melempar bola
  • Belum bisa melompat
  • Belum bisa naik sepeda roda tiga
  • Masih menangis bila ditinggal pergi orang tuanya
  • Tidak suka permainan interaktif
  • Tidak acuh pada anak lain

5 tahun

Melompat dengan satu kaki, memanjat, bermain sepatu roda, bermain sepeda Belajar berbahasa lebih baik, bahkan juga bahasa asing
  • Sangat penakut
  • Berprilaku agresif
  • Sulit berpisah dari orang tuanya
  • Tidak mampu berkonsentrasi lebih dari 5 menit
  • Tidak tertarik pada anak lain
  • Merespon orang di sekitarnya dengan datar.

Sumber : http://www.infobunda.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 8, 2011 in Next Generation

 

Permainan Balita 0-1 Tahun

PERMAINAN-PERMAINAN UNTUK BALITA USIA 0-6 BULAN

1.    Pada saat-saat mandi.
Sebelum anda memandikan si kecil cobalah bermain-bermain dulu sejenak dengan si kecil yang sudah lepas pakaiannya, dengan cara meneteskan sedikit air dingin ke punggungnya, sambil berkata bahwa itu “dingin”, kemudian ganti dengan air hangat, teteskan pada punggung si kecil samil berkata “hangat”. Saat-saat mandi dan bermain air adalah saat yang cukup menyenangkan bagi si kecil, biarkan dia merasakan kecipak-kecipak air yang kita mainkan, sambil tak lupa bersenandung.
Tuang-tuangkanlah air ke bagian-bagian tubunhnya dengan riang dan jenaka, sambil terus mengatakannya, “lihat airnya megalir dari atas ke bawah,.. byuuur….”,
Ini kepala,.. byuuuur,.. air diguyurkan kekepalanya.
Ini tangan,.. byuuur air diguyurkan ke tangannya,.. dst

2.    Pasanglah hiasan/mainan yang digantung diatas bayi, jenis benda yang bisa digantung bisa berbagai macam benda yang tidak berbahaya dan mempunyai warna yang mencolok, seperti merah, kuning, hijau , biru.

3.     Benda yang digantung bisa berupa origami buatan sendiri dalam berbagai bentuk, seperti burung, bola, perahu dsb, akan lebih baik bila disertai dengan bunyi-bunyi lembut.

4.     Koordinasi tangan dan mata
Buatlah bola kaus kaki dari kaus kaki bekas yang berwarna cerah. Terlentangkan si kecil dan taruh bola tersebut di perutnya, gulirkan ke arah atas melewati dada dan lehernya. Perhatikan mata dan tangnnya. Apakah ia berusaha menggapai bola tersebut atau hanya matanya memperhatikan gerakan tersebut? Bersabarlah, si kecil akan merespon bila dia merasa siap. Mengobrollah dengannya selama aktivitas berlangsung dan dengar baik-baik bila ada respon verbal atau senyuman yang diberikannya.

5.     Gambar atau tempellah sebuah wajah dengan warna warni yang mencolok di atas sehelai piring kertas. Wajah yang dibuat sebaiknya bermimik lucu dan ditempel hanya pada satu sisi. Permainan ini dimulai dengan menunjukkan gambar wajah lalu dibalikkan ke sisi kosong. Lalu balikkan ke sisi yang bergambar sambil berkata ciluk-ba. Variasi permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, yang ditutupkan pada wajah anda.

6.     Menjangkau dan mengenggam.
Letakkan bayi pada posisi yang nyaman, di lantai. Taruh sebuah kumparan, sebuah bola dan sebuah kerincingan dalam posisi berjajar. Gerakkan maju benda yang paling kiri, dan lihat apakah si kecil mencoba meraihnya atau menggaruk agar benda tersebut lebih dekat padanya?. Kemudian lakukan hal yang sama untuk benda di sebelahnya. Amati responnya. Terakhir gerakkan benda ketiga dan amati lagi respon si kecil. Apakh si kecil mencoba meraih ketiga-tiganya atau hanya tertarik dengan salah satu benda. Ulangi lagi latihan ini dan beri kesempatan padanya untuk menyentuh dan menggenggam ketiga benda itu bergantian.

7.    Jari-jari tanganku
Pegang telapak tangan kirinya dan sentuhlah ibu jarinya. Katakan, ini jempol, sentuh jari telunjukknya dan katakana ini telunjuk dst.. Kemudian gunakan kedua telapak tangan anda berhadap-hadapan seolah-olah sedang terjadi percakapan antara jari-jari di tangan anda. Mulai berkata-kata dengan posisi jari mengepal. Setiap jari harus muncul atau hilang sesuai dengan kata-kata yang anda ucapkan. Ki berarti kiri dan ka berarti kanan.
Mana jempol?, mana jempol?
(ki) aku disini. (ka) aku disini
(ki) apa kabarmu hari ini?
(ka) aku baik-baik saja
(ki) ayo lari
(ka) ayo lari
Ulangi percakapan di atas untuk setiap kata jari dan kata jempol sesuai dengan jari-jari yang ingin dikenalkan.

==================================================================================

PERMAINAN-PERMAINAN UNTUK BALITA USIA 6 BULAN – 1 TAHUN

1. Bermain air
Saat mandi, biarkan si kecil untuk bermain-main air, siapkan mainan yang tahan air berbentuk-wadah-wadah yang berlainan bentuk. Ajak dia menuangkan air dari satu wadah ke wadah yang lain, tunjukkanlah bahwa air akan mengikuti bentuk wadah yang menampungnya, dan air akan mengalir dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Buatlah busa sabun mandinya menjadi lebih banyak, biarlah dia memegangnya dan merasakan kelembutannya, dan bairkan dia bermain-main dengannya.

2. Bermain “saboon dama”
Ajaklah si kecil bermain ke kebun, sambil kita bawa sebuah saboon dama, biarkan dia melihat gelembung-gelembung sabun itu terbang, sambil sesekali cobalah dia untuk merasakan sebuah gelembung tersebut. Untuk usia 1 thn mungkin sudah bisa dicoba untuk meniupkannya. Tak lupa anda pun “sedikit” bercerita bagaimana saboon dama terjadi, atau mengapa dia bisa terbang.

3. Milik siapa ini?
Ambil sebuah sarung tangan ibu, sandal kamar milik ayah dan topi yangs edikit lebih besar dari milik si kecil. Kenakan sarung tangan anda dan lepaskan. Sekarang minta si kecil untuk memasang sarung tangan itu di salah satu tangannya. Jika si kecil tampak membutuhkan bantuan, pasangkan sarung tangan itu di tangannya. Kerjakan sambil mengobrol dengannya. Lakukan berulang kali sampai dia mampu melakukan sendiri.
Pekai sandal kemudian lepaskan lalu, minta si kecil untuk melakukannya juga. Biarkan dia memilih kaki mana yang akan dipakai sandal. Bantulah bila terlihat membutuhkan bantuan, lakukan terus sampai dia merasa bosan. Sekarang pakai topi dan biarkan si kecil melepaskannya dari kepala anda. Apakah setelah melepas, lalu dia memakai topi tersebut? jika tidak mintalah dia untuk memakai topi tersebut, bila dia tampak bingung, coba lakukan kembali langkah ini lebih perlahan agai dia mengerti dan kemudaian mencobanya.
Katakan padanya untuk memakai sandal? Dapatkah dia melakukannya sendiri? Bantulah dia bila dia tampak bingung. Tunjuk topi itu dan minta dia memakainya. Latihlah permainan ini, jangan lupa untuk memberi pujian.

4. Gunting sebuah close up wajah bayi dari majalah atau anda dapat mengambar sendiri. Tunjukkan kepada si kecil. Tunjukkan mata kiri pada gambar dan katakan “mata”. Kemudian sentuhlah mata kiri si kecil dan lanjutkan mata kiri anda lalu katakana “mata”. Lakukan langkah yang sama pada mata kanan, hidung mulut dst.
Sepanjang minggu ini bila ada kesempatan, berikan latihan mengenal bagian-bagian wajah. Jika si kecil tampak bingung berikan pengenalan bertahap. Misalnya, satu hari hanya mengenal mata, kemudian hari berikutnya hidung dst. Gunakan nada suara yang menarik dan sesekali bertepuk tanganlah. Tunjukkan bagian-bagian wajah ini di buku atau majalah sesering mungkin. Minta si kecil menunjukkan mata, hidung, dst. Kemudian minta dia memegang miliknya sendiri atau milik anda.

Sumber : Rumah Fahima

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 16, 2011 in Next Generation

 

Cara memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil

Sistem kekebalan bertugas untuk menjaga tubuh dari serangan penyakit. Namun, anak-anak tidak terlahir dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat sehingga perlu cara memperkuatnya agar anak tidak mudah terkena penyakit.

Ketika tinggal di dalam rahim ibu, calon bayi berada di lingkungan yang sangat dilindungi. Tapi saat ia keluar, berbagai virus dan bakteri akan menunggu. Itulah alasan mengapa bayi lebih sering jatuh sakit.

Ketika makin tumbuh, sistem kekebalan tubuh akan tumbuh lebih kuat jika input yang diberikan tepat. Namun bila perlindungan yang diberikan terlalu berlebihan, maka bisa berakibat tidak baik karena justru bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memperkuat kekebalan tubuh si kecil, seperti dilansir Lifemojo, Selasa (9/8/2011):

1. ASI eksklusif
Secara alami tubuh ibu telah dianugerahi ASI yang cukup untuk dapat meningkatkan antibodi dan sel darah putih yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi. Ibu perlu untuk menyusui bayi setidaknya pada 6 bulan pertama secara eksklusif.

2. Makanan segar
Makanan segar seperti buah dan sayur kaya akan antioksidan dan vitamin C, yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bila Anda ingin memberi anak makanan kecil, maka berilah buah-buahan seperti apel, jeruk dan buah-buahan musiman lainnya, bukan biskuit atau keripik.

3. Hindari junk food dan makanan olahan
Berbagai bahan kimia dan aditif hadir dalam makanan olahan memiliki kapasitas membahayakan untuk sistem kekebalan tubuh.

4. Olahraga
Olahraga adalah penambah kekebalan yang jitu untuk anak-anak. Anak-anak tidak boleh terpaku di depan TV setiap kali mereka berada di rumah. Daripada menyuruh mereka pergi dan bermain sementara Anda menonton TV, lebih baik mengatur beberapa kegiatan olahraga bersama anak. Dengan cara ini, akan menjadi waktu keluarga dengan ikatan yang baik dan energik. Selain meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak, juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda.

5. Menanamkan kebersihan diri
Kebiasaan mencuci tangan setelah dari toilet, ketika tangan terlihat kotor, sebelum makan atau menyentuh makanan harus ditanamkan pada anak sejak dini. Hal penting lain, orangtua harus memperhatikan untuk mengganti sikat gigi anak lebih sering. Sikat gigi adalah pembawa kuman dan membutuhkan penanganan higienis.

6. Tidur cukup
Anak-anak memerlukan tidur lebih dari dewasa untuk tetap sehat. Jika kurang tidur dapat membuat orang dewasa kurang optimal dan menurunkan sistem kekebalan tubuh, hal itu juga akan mempengaruhi kekebalan anak-anak. Menurut para ahli, anak prasekolah membutuhkan 10 jam tidur, balita 12 sampai 13 jam, dan bayi baru lahir 18 jam tidur.

(mer/ir)

Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2011 in Next Generation

 

Manfaat bermain di luar rumah

Saat ini jarang ditemukan anak-anak yang bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Padahal ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan si kecil dari bermain bersama ini.

Orangtua sebaiknya tidak meremehkan permainan anak-anak, karena permainan itu bisa mengembangkan keterampilan penting yang nantinya diperlukan anak serta mempersiapkan otak anak untuk menerima tantangan ketika dewasa kelak.

Namun para ahli perkembangan anak menuturkan bahwa jumlah anak yang bermain bebas selama 3 dekade terakhir telah menyusut, anak-anak cenderung lebih banyak bermain video game di dalam rumah atau menonton televisi.

Berikut ini 5 manfaat yang bisa didapatkan si kecil jika ia bermain bebas diluar rumah bersama teman-temannya, seperti dikutip dari Livescience, Sabtu (13/8/2011) yaitu:

1. Memiliki perilaku yang lebih baik
Studi tahun 2009 yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa anak-anak memiliki perilaku lebih baik jika ia memiliki waktu untuk bermain dengan teman-temannya di taman bermain.

2. Mengajarkan toleransi pada anak
Studi yang dipublikasikan dalam Early Childhood Education Journal tahun 2007 mengungkapkan bahwa bermain bebas membantu anak memiliki kesadaran atau toleransi terhadap orang lain serta mengatur emosinya.

“Bermain juga membuat anak mengerti tentang aturan-aturan sosial yang ada,” ujar Kathy Hirsch-Pasek, seorang psikolog perkembhangan anak di Temple University.

3. Membuat anak bergerak
Berlari-larian atau memanjat mainan membuat anak lebih banyak bergerak dibanding hanya menonton televisi atau bermain komputer. Jika anak-anak sudah terbiasa aktif, maka ia akan menjadi orang dewasa yang aktif, sehingga mengurangi risiko jantung, obesitas dan penyakit lainnya.

4. Belajar sambil bermain
Permainan tertentu bisa membuat anak bermain sambil belajar, seperti halnya berhitung. Dengan begitu anak lebih mudah untuk belajar angka atau pertambahan jika permainan yang dilakukan menggunakan skor.

5. Bermain adalah hal yang menyenangkan bagi anak
Hirsch-Pasek menuturkan bermain adalah salah satu hal alami yang dibutuhkan oleh anak-anak, yang mana ia bisa berkumpul dengan teman-temannya dan merasa bebas bereksperimen. Selain itu bermain juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan motorik an
(ver/ir)

Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2011 in Next Generation

 

Melatih si kecil berhenti ngompol

MELATIH SI KECIL BERHENTI MENGOMPOL

Yang jelas diperlukan usaha ekstra dan kesabaran dari orang tua.

“Duh, Adek, kok, ngompol lagi, sih. Tuh, lihat kasurnya, kan, jadi basah!” Ngompol memang problema tersendiri bagi orang tua. Bukan cuma bikin kasur jadi basah dengan bau tak sedap sehingga perlu dijemur. Tapi juga membuat lelah karena harus gonta-ganti celana si kecil di malam hari. Jadi, wajar saja bila orang tua berharap si kecil bisa berhenti ngompol secepatnya.

Yang patut disadari, menurut Lidia L. Hidajat, MPH, ngompol untuk anak batita sebenarnya masih wajar. “Para pakar umumnya memberi toleransi mengompol hingga usia anak 4 tahun. Nah, lewat usia itu anak masih mengompol, bolehlah orang tua khawatir.”

MODEL TEMPAT TIDUR

Mungkin menarik pula melirik faktor penyebab anak jaman sekarang lebih susah diajak kering atau berhenti ngompol ketimbang anak-anak jaman dulu. Perubahan jaman, kata Lidia, merupakan salah satu penyebabnya. Dengan kondisi ekonomi di masa-masa ini,membuat lebih banyak wanita yang bekerja untuk menambah penghasilan keluarga.

Bukannya mau mengurangi peran para bapak, lo. Namun jika mau dihitung secara statistik, mungkin akan lebih banyak jumlah ibu yang menyediakan waktu untuk mengganti popok ketimbang ayah. Nah, karena zaman sekarang para ibu juga harus bekerja, maka kelelahan seorang ibu pun bertambah. “Dibanding dulu, wanita karier sekarang pulangnya sampai larut malam. Tiba di rumah sudah sangat lelah.”

Akhirnya, lanjut Lidia,popok sekali pakai menjadi semacam hero yang populer untuk membantu mengurangi kelelahan ibu. “Enggak salah juga pakai popok macam itu karena ibu jadi tak perlu gonta-ganti celana anak.” Yang jadi masalah, popok sekali pakai ini membuat orang tua “terlena” sehingga kebablasan.Ujung-ujungnya, ya, kita jadi lupa melatih si kecil ke kamar mandi di malam hari.

Padahal, kalau mau jujur, popok sekali pakai terasa risih dan tak nyaman, lo, buat anak. Bayangkan, bokong si kecil ditutupi plastik seharian. Panas sekaligus lembab, bukan? “Jadi, tak salah juga jika ada yang bilang, popok sekali pakai itu adalah perwujudan dari egoisme orang tua,” ujar staf pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

Gara-gara kelewat lelah pula, orang tua mungkin jadi tak terbangun ketika malam-malam si kecil terbangun ingin BAK. Alhasil, ia pun mengompol dan menjadikannya sebagai kebiasaan.

Faktor lain yang membuat si kecil susah kering, lagi-lagi berkaitan dengan kemajuan teknologi. Seperti model kasur spring bed yang besar dan berat. “Akhirnya, perlak ditaruh di atas seprei, bukan di bawah seperti jaman dulu, “ungkap Lidia. Nah, perlak yang terlihat itu, membuat anak tahu, di bawah tubuhnya ada pelindung.”Kalau aku mau pipis, ya, pipis aja. Kan, ada perlak, jadi kasurnya enggak basah.” Bisa juga mereka berpikir, perlak itu memang disediakan agar ia dapat BAK di situ. Nah, kalau ingin mengajar si kecil tak mengompol lagi, sebaiknya singkirkan perlak tersebut

LIHAT POLA

Selengkapnya, Lidia menuturkan beberapa cara agar di kecil mau berhenti mengompol. Yang jelas,peran serta orang tua amat diperlukan. Salah satunya adalah kenali si kecil. “Secara umum,yang berperan besar bagi batita adalah orang tua sebab masa ini adalah masa yang bisa dimainkan. Sayangnya, jaman sekarang kebanyakan orang tua sibuk dengan urusan lain sehingga batita bisa dikatakan 60 persen tumbuh sendiri, baru sisanya ada keterlibatan orang tua.”

Yang pertama harus dilakukan,lihat pola anak. Pada saat seperti apa ia mengompol dan berapa kali dalam semalam. “Jarang, lo, orang tua yang punya catatan tentang ini.” Untuk itu, mau tak mau orang tua harus mau sedikit begadang. Selidiki, jam berapa si kecil ngompol lalu catat. Catatan ini berguna untuk langkah selanjutnya. Yaitu menciptakan kondisi agar kita dapat bangun sebelum jam mengompol anak. Caranya dengan memasang jam weker, misalnya.”Kalau tahu 3 jam setelah ia tidur kasur akan basah, maka bangunkan anak 2 jam setelah tidur. Ajak ke kamar mandi dan biarkan BAK.” Setelah seminggu kering, turunkan waktunya menjadi satu jam sebelum “waktu mengompol”. Seminggu berikutnya buat menjadi setengah jam. “Lama-lama kita ajarkan anak untuk BAK sebelum tidur.”

Jangan lupa juga, Bu-Pak, ketika menerapkan semua itu, si kecil perlu dikosongkan terlebih dulu.”Setelah makan malam, coba jaga agar anak tidak banyak minum, terutama minuman gampang membuatnya ke belakang. Teh manis, contohnya.”

Masalah mungkin timbul jika si kecil emoh disuruh BAK sebelum tidur. Nah, bujuklah ia dengan berbagai cara. Misalnya, lewat permainan. Saat main boneka bersamanya, misalnya, katakan, “Wah,si Dipsy mau pipis, nih! Kita antar ke kamar mandi, yuk.”Ketika di kamar mandi, kita bisa mengatakan, “Duh, masak Dipsy enggak mau pipis, katanya Adek disuruh pipis dulu.”

JANGAN BIKIN STRES

Umumnya, dengan usaha seperti di atas, kata Lidia, dalam jangka waktu dua minggu, anak berhenti ngompol. “Tapi ini juga tergantung pada anaknya. Adajuga yang tak berhasil.” Faktor yang bikin gagal, umpamanya, karena si kecil merasa dipermalukan. “Jangan sekali-kali mempermalukan anak.” Misalnya, jika ada yang memuji kecantikan si kecil, kita menimpalinya, “Iya, Kakak memang cantik tapi masih suka ngompol, lo, Tante.” Atau mencela dengan membandingkan dengan yang lain. “Iya, Adek cantik, tapi enggak kayak kakaknya. Waktu umur 2 tahun kakak sudah enggak ngompol.” Secara tak sadar, ungkap Lidia, perkataan tersebut membuat anak stres. Akibatnya, ia yang tadinya sudah tak mengompol, malah bisa ngompol lagi.

Juga jangan langsung to the point. Ketika suatu ketika si kecil enggak sengaja ngompol lagi. “Tuh, kan, Adek pipis lagi. Bikin Mama susah aja. Capek, kan, Dek, harus jemur-jemur kasur!” Saran Lidia, walau kita dalam keadaan lelah, jangan sekali-kali menunjukkan rasa jengkel, amarah, atau kepanikan ketika ia mengompol. “Semua itu malah membuat anak jadi stres dan susah untuk belajar kering.”

Untuk pelampiasan kejengkelan, lagi-lagi bonekanya bisa kita gunakan. Biarkan si boneka yang “berbicara”. Contohnya, “Ih, Adek, tadi malam, kok, pipis lagi, ya? Padahal, kan, udah janji enggak pipis.”Dengan cara itu, dua pihak sama-sama untung; orang tua bisa menyalurkan kemarahan melalui perantara sehingga bisa mengurangi kejengkelan dan anakpun secara tak langsung jadi merasa bersalah.

Intinya, Bu-Pak,untuk soal mengompol ini, hukuman tampaknya tidak cocok atau masih sulit dilakukan untuk batita. “Untuk anak yang sudah lebih besar, katakanlah 4 tahunan, bisa disuruh mencabut sprei atau memasukkan sprei yang basah ke ember cucian. Namun untuk batita, semua itu masih sukar dilakukan.” Akan lebih efektif bila batita selalu diberi reward. Jadi, ceritakan pada orang lain setiap keberhasilannya tidak mengompol. “Bukan sebaliknya. Sering, lo, terjadi orang tua malah menceritakan anaknya yang masih mengompol.”

Faras Handayani.Foto: Iman Dharma (nakita)

Minta Tolong Si Kecil

Soal mengompol bisa dikatakan sebagai masalah unik. Ada anak yang sangat “pengertian”. Ia langsung berhenti mengompol setelah diajak bicara.Karena itu, tak ada salahnya kita minta bantuan anak. Sebelum tidur, katakan padanya,”Dek, tolong Mama, ya, kalau mau pipis bilang. Soalnya Mbak, kan sedang pulang kampung, jadi enggak ada yang nyuci sprei.” Nah, permintaan seperti itu kadang berhasil, lo. Jadi, tak ada salahnya dicoba!

Hani

Kok, Ngompol Lagi ?

Kalau tiba-tiba ngompolnya “kumat” lagi, kita perlu mencari tahu apa penyebabnya. Lidia membagi penyebab ngompol menjadi 3, yaitu fisik, lingkungan, dan emosi. Contoh penyebab fisik, misalnya, si kecil kelewat lelah sehingga tidurnya terlalu lelap. Jadi,ketika terasa ingin BAK, ia tidak kuasa bangun. Sedangkan penyebab lingkungan adalah AC atau cuaca yang dingin.

Yang agak rumit bila penyebabnya emosional, seperti pindah rumah, tidur sendiri atau punya adik baru. Untuk mengatasinya, lihat masing-masing pemicu. Bila masalahnya karena si kecil iri akan perhatian orang tua yang lebih ke adik bayinya, ajak si kecil bicara dan beri juga ia perhatian. “Biasanya ia mengompol lagi untuk cari perhatian.”

Jika masalahnya berkaitan dengan pindah rumah, kita harus sering menemani si kecil. Atau ketika ia tengah belajar tidur sendiri buatlah ia untuk melepas ketegangan, dengan cara diceritakan atau nonton video kesayangannya. “Yang penting, ia harus tidur dengan kondisi relaks,” kata Lidia.

Satu hal lagi, terkadang si kecil sering mengompol karena berkaitan dengan kesehatannya. Coba perhatikan apakah si kecil, terutama si Upik, merasa kesakitan ketika BAK. “Orang tua kadang luput memperhatikan hal itu. Apalagi saat ini banyak air yang terkontaminasi sehingga mengakibatkan si Upik terinfeksi. Akhirnya, karena sakit, ketika terasa mau BAK, ia tahan. Malam hari,ketika ia tak sadar, jadi mengompol.”

Ada juga anak susah berhenti mengompol karena memang dari “sananya” seperti itu. Apa pun yang kita usahakan, sia-sia saja.Nah, ini sering berkaitan dengan otot-otot kandung kemihnya yang lemah. Tak ada jalan lain, kecuali konsultasikan ke dokter.

Hani

Sumber:http://www.tabloid-nakita.com/

Baca juga: Ngompol, Kenapa?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2011 in Next Generation

 

Mendidik anak agar mandiri

Mendidik Agar Anak Mandiri
Oleh Staff IQEQ

Orang tua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin dicapai orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu dan bermacam pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan. Atau langsung memberi segudang nasehat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa “lari” kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.

Lalu upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.

1.     Beri kesempatan memilih
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan – keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.

2.     Hargailah usahanya
Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.

3.     Hindari banyak bertanya
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan – pertanyaan seperti, “Belajar apa saja di sekolah?”, dan “Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelaihi lagi di sekolah!” dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : “Halo anak ibu sudah pulang sekolah!” Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.

4.     Jangan langsung menjawab pertanyaan
Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, “Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari? ” Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.

5.     Dorong untuk melihat alternatif
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk nmengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri . Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban : “Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda.”

6.     Jangan patahkan semangatnya
Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, “Bu, Andi mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput, bolehkan? ” Tindakan untuk menjawab : “Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya” seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaliknya ibu berkata “Andi mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andi mau naik mobil antar jemput.” Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.

Sumber: http://www.iqeq.web.id/anak/anak12.shtml

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2011 in Next Generation