RSS

Jenis jenis oli

13 Agu
Fungsi utama oli adalah sebagai protection, yakni memberi suatu lapisan untuk melindungi komponen bagian dalam mesin yang bergerak dari keausan sekaligus meminimalisasi kemacetan yang bisa terjadi, kemudian membantu mendinginkan/menstabilkan suhu mesin akibat adanya gesekan antar komponen-komponen tersebut.
Pada saat mesin bekerja, terjadi gesekan  berulang-ulang antar komponen mesin yang terbuat dari logam atau metal. Hal ini tentu dapat mengakibatkan keausan pada bagian permukaannya. Tetapi dengan adanya oli sebagai pelumas dapat membuat permukaannya jadi licin, sehingga gesekan langsung antar-komponen mesin tersebut dapat dicegah. Waktu gesekannya pun dapat dipersingkat. Dengan begitu panas yang terjadi akibat gesekan-gesekan komponen mesin jadi tak berlebihan dan dapat ditoleransi. Semakin optimal oli bekerja sebagai pelumas mesin, keawetan dalam pemakaian mesin semakin terjaga.
Jika terjadi sesuatu masalah mengenai oli, akan membuat sistem pelumasan pada mesin menjadi tak sempurna. Akibatnya sudah pasti mesin tidak dapat bekerja dengan normal. Besarnya gaya gesekan antar bagian-bagian mesin yang terjadi menyebabkan peningkatan panas pada mesin secara terus menerus. Pada akhirnya mesin akan over heat, hingga macet atau bahkan bisa menyebabkan kerusakan serius pada silinder dan piston.
Ada beberapa sebab yang membuat sistem pelumasan tak berfungsi normal. Seperti misalnya ketidak-beresan pompa oli, kebocoran pada saluran oli, dan sebagainya. Atau, bisa juga karena faktor salah pemakaian jenis oli itu sendiri. Sebab masing-masing oli mesin mempunyai spesifikasi tersendiri yang belum tentu sesuai dengan mesin kendaraan kita. Untuk itu perlu sedikit tambahan pengetahuan tentang berbagai hal mengenai oli. Tujuannya adalah supaya kita sebagai pemakai kendaraan tak salah pilih menentukan oli yang tepat dan sesuai mesin kendaraan kita.
Ditambah lagi karena beragamnya jenis oli yang beredar di pasaran dengan berbagai kemasan yang menarik, semakin membuat kita sulit menentukan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan mesin kendaraan kita.
Kebanyakan pada saat membeli oli, kita hanya menurut anjuran dari penjual oli saja. Pihak penjual tentu saja sangat tendensius dalam memberi anjuran oli mana yang harus dibeli. Kemungkinan besar yang biasa terjadi adalah anjuran untuk membeli oli yang terdapat pada etalase toko atau bengkel itu sendiri. Bisa jadi oli anjuran penjual tersebut tak keliru, tapi bukan yang paling tepat dan terbaik untuk mesin kendaraan kita. Jadi mengapa harus memaksa untuk beli, jika kita mengerti dan tahu ada jenis karakter oli yang lebih sesuai dengan mesin kendaraan kita?
Untuk itu ada baiknya kita pahami dan perhatikan berbagai hal mengenai oli sebagai berikut:
Jenis Oli (Pelumas)
Berdasarkan bahan bakunya ada 3 jenis oli yang beredar di pasar, yakni mineral, semi sintetis, dan sintetis. Untuk pelumas mineral material dasarnya adalah minyak bumi yang didapat dari pengeboran di suatu pertambangan minyak. Setelah itu minyak bumi yang didapat diolah menjadi suatu minyak pelumas. Inilah yang disebut oli mineral. Jika  kemudian hasil olahan tersebut masih perlu ditambah dengan suatu bahan sintetis lain untuk mencapai standar mutu yang lebih baik, maka produknya disebut dengan pelumas semi sintetis. Sementara pelumas sintetis material dasarnya dari sintetis hidrokarbon (misalnya Poly Alpha Olefin), esther, atau alkyilated naphthalene category. Pelumas jenis sintetis  ini biasanya memiliki kualitas lebih prima, sehingga harganya relatif lebih mahal daripada oli mineral dan semi sintetis.
Pelumas moderen biasanya bahan kimia (aditif) yang ditambahkan sedemikian lengkap, sehingga beberapa merek tidak lagi menyarankan penambahan aditif (oil treatment) pada produknya.
Standar Kekentalan Oli
Oli dapat diklasifikasikan dari viskositas atau tingkat kekentalannya. Dalam kemasan oli, biasanya ditemukan kode huruf dan angka yang memperlihatkan tingkat kekentalannya. Contohnya SAE 40, SAE 50, SAE 90, dan seterusnya. SAE merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers atau Ikatan Ahli Teknik Otomotif, yang kemudian menetapkan standar viskositas oli pada suhu 100ºC. Sedangkan angka di belakangnya adalah menunjukkan tingkat kekentalannya. Semakin besar angka yang tertera, semakin tinggi tingkat viskositasnya (semakin kental). Jika tertera SAE 90 menunjukkan, bahwa tingkat kekentalan oli tersebut 90 menurut standar SAE. Tentu saja oli ini kekentalannya lebih tinggi jika dibandingkan SAE 40.
Ada pula kode angka multi grade seperti 10W-50 yang berarti memiliki kekentalan yang bisa berubah-ubah sesuai suhu di sekitarnya. Huruf W di belakang angka 10 adalah singkatan Winter (musim dingin). Jadi pelumas tersebut artinya mempunyai tingkat kekentalan yang setara dengan SAE 10 (di udara dingin), tapi ketika udara panas kekentalannya sama dengan SAE 50. Jadi viskositasnya dapat menyesuaikan dengan suhu udara saat itu. Oli jenis multi grade ini telah umum beredar di pasaran.
Kelebihan oli multi grade adalah tak cenderung mengental di udara dingin sehingga mesin akan tetap mudah saat dihidupkan di pagi hari atau setelah beberapa lama mesin tak dijalankan.
Klasifikasi Mutu Oli
Jika standar kekentalan oli telah ditentukan dengan SAE, maka untuk klasifikasi mutu minyak pelumas ditentukan oleh API (American Petroleum Institute). Klasifikasi atau tingkatan mutu sebuah oli ditandai pada kemasannya dengan kode huruf. Kode biasanya terbagi atas dua bagian yang dipisahkan dengan garis miring, misal  API Service SG/CD, SH+/CE+, dan sebagainya. Kode dengan awalan huruf S adalah kependekan dari `service` (atau spark yang berarti percikan api), adalah spesifikasi pemakaian oli untuk mesin bensin. Sedangkan huruf C adalah kependekan dari `commerce` (atau compression karena  pembakaran terjadi pada  tekanan udara yang lebih tinggi), adalah spesifikasi pemakaian oli untuk mesin Diesel. Kemudian untuk huruf kedua pada kode adalah tingkatan mutunya sesuai dengan urutan huruf alphabet. Semakin mendekati huruf Z, maka semakin tinggi atau baik mutunya.
Pelumas dengan kode SG/CD menandakan oli akan lebih sesuai jika dipakai untuk mesin bensin (SG), meski dapat pula untuk mesin Diesel (CD). Sementara tingkat mutunya sampai tingkat G (untuk bensin) dan tingkat D (untuk Diesel). Tanda `+` misalnya pada kode SH+/CE+ berarti tanda nilai lebih dari tingkat SH dan CE.
Yang menjadi patokan mutu pelumas adalah kekuatan lapisan film pelumas yang berfungsi melekatkan pelumas pada logam. Semakin tinggi mutunya, semakin kuat lapisan itu mengikat pelumas pada permukaan logam mesin. Mesin mobil dengan teknologi baru (multi valve, DOHC, twin cam dan sebagainya) menuntut pelumas tingkat tinggi karena komponen yang harus dilumasi amat banyak.
PILIH YANG TEPAT DAN BERKUALITAS
Setelah mengetahui dan memahami tentang standar kekentalan dan klasifikasi mutu oli yang sesuai dengan mesin kendaraan, hal yang tak kalah pentingnya adalah memilih oli berkualitas. Tentu saja tujuannya adalah untuk melindungi dan menjaga mesin kendaraan dari gesekan yang berlebihan antar komponen logam yang terdapat dalam mesin. Seperti yang dijelaskan, bahwa gesekan yang berlebihan menyebabkan keausan mesin pada waktu penggunaan yang belum terlalu lama.
Masalahnya sekarang bagaimana memilih oli yang benar dan tepat buat mesin kendaraan, tanpa melupakan kualitas oli itu sendiri? Cara yang paling mudah dan aman adalah menurut petunjuk/saran dari buku petunjuk manual kendaraan yang kita pakai. Sebab suatu pabrikan mobil tentu telah melakukan berbagai riset yang panjang dan teliti mengenai karakter dan spesifikasi untuk mesinnya. Demikian pula standar viskositas dan klasifikasi mutu oli yang menunjang kinerja mesin kendaraan.
Jika pada buku petunjuk manualnya menyarankan pemakaian oli SAE 20W-50, jangan membeli oli dengan standar viskositas yang berbeda. Apalagi karena alasan lebih murah dan sebagainya. Sebab kinerja dan karakter mesin memerlukan spesifikasi oli tersendiri. Jika tetap memaksa, mungkin tak hanya tenaga mesin yang kurang optimal, tapi  bisa-bisa mesin tak berumur panjang. Paling tidak spesifikasi oli  harus sama. Untuk masalah merek jika memang tak tersedia boleh saja berbeda, asal harga tak berbeda jauh. Sebab biasanya walau dengan spesifikasi sama, tapi  harga yang berbeda jauh (lebih murah) juga menentukan kualitas berbeda.
Waspadai Oli Aspal
Berbagai hal penting untuk diperhatikan dan diwaspadai saat membeli oli adalah banyaknya oli berkualitas rendah, atau bahkan palsu. Biasanya oli yang berkualitas rendah tersebut pada kemasannya tidak jelas dalam mencantumkan nama dan alamat produsen atau importirnya (fiktif), untuk layanan konsumen seperti informasi produk, pengaduan, dan sebagainya. Selain itu produk tertentu juga hanya mencantumkan angka kekentalan, tanpa mencantumkan tingkat mutu yang ditunjukkan dengan API Service.
Harga yang terlalu murah dan tak wajar perlu juga diwaspadai. Sebab pada umumnya harga sebuah produk juga mencerminkan mutu dan kualitas produk itu sendiri. Paling sulit adalah masalah mengantisipasi beredarnya oli palsu. Sebab baik dari kemasan, warna, dan tutup segelnya sulit dibedakan. Kecuali bila produk oli tersebut diperiksa di laboratorium.
Yang lebih bikin senewen lagi adalah harganya juga sama dengan aslinya! Nah, sebagai konsumen akan serba sulit membuktikan `kepalsuan` saat membeli oli dan meminta ganti rugi kepada penjualnya. Memang ada yang mengatakan, bahwa oli yang asli punya bau khas. Tapi bagaimana bau yang `khas` tersebut? Apakah semua merek berbau “khas” yang sama? Tak semua konsumen tahu akan hal itu.
Cara yang sederhana tapi berisiko paling kecil adalah membeli oli pada tempat penjualan atau bengkel resmi. Atau, bisa juga pada toko atau agen kepercayaan, dimana sebelumnya kita selalu membeli di tempat tersebut dan selama itu tak mengalami suatu keluhan pada mesin kendaraan kita. Apa boleh buat, sementara hanya itu yang dapat kita lakukan menyikapi oli palsu.
Mau Irit Malah Pailit
Ada juga yang bermaksud menghemat pengeluaran uang perawatan mobil. Pada saat membeli oli, dipilih yang harganya jauh lebih murah dari oli yang disarankan pada buku petunjuk kendaraan. Tentu saja masalah viskositas dan mutu oli jadi prioritas kesekian (diabaikan). Dapat dipastikan orang tersebut nantinya malah mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dari perkiraannya sendiri.
Apa yang terjadi? Karena menggunakan oli bermutu rendah dan tak sesuai dengan tuntutan karakter mesinnya, akhirnya menimbulkan berbagai masalah yang muncul. Karena sistem pelumasan tak berjalan sempurna membuat gesekan yang berlebihan pada mesin. Hal ini menyebabkan suhu mesin tinggi (panas), daya dan produktivitas mesin menurun, bahan bakar menjadi boros karena beban mesin yang semakin berat, dan knalpot mengeluarkan asap hitam pekat karena pembakaran tak sempurna.
Namun akibat paling fatal yang merugikan adalah pendeknya umur mesin kendaraan atau bahkan mesin jadi macet dan rusak. Bisa dibayangkan berapa biaya perbaikan yang harus dikeluarkan untuk overhaul (turun mesin) sebelum waktunya.
Jika saja orang tersebut mau mengeluarkan uang sedikit lebih banyak untuk membeli oli yang sesuai dengan karakter mesin mobilnya, tentu ia tak akan mengeluarkan biaya besar untuk turun mesin sebelum waktunya. Bahkan, ia akan menikmati mesin mobilnya berumur lebih panjang atau awet, sebab semua fungsi mesin berjalan dengan baik. Bahan bakar juga tak menjadi boros, karena mesin menanggung beban yang sesuai dengan kemampuannya. Dan paling penting adalah biaya pemeliharaan mesin yang rendah, karena lebih lama untuk penggantian busi, platina, tali kipas, filter oli, filter udara, setel klep, dan sebagainya. Jadi jangan sampai terjadi mau ngirit, malah pailit.
Aditif
Selain pelumas, terdapat pula bahan tambahan yang disebut oil treatment dan engine treatment. Oil Treatment atau aditif adalah suatu bahan tambahan yang berfungsi sebagai `vitamin` bagi oli. Kegunaannya bermacam-macam, antara lain sebagai pembersih (detergent dispersant), antibeku (antifreeze), antibusa (antifoam), mempertahankan kekentalan oli (viscosity index improver), dan penguat lapisan pelumas terhadap logam.
Aditif sebagai pembersih mengandung semacam larutan pembersih kotoran pada logam dan di dalam pelumas itu sendiri. Kotoran-kotoran tersebut akan larut dan mengalir bersama pelumas hingga akhirnya melewati saringan dan akan tertahan. Aditif antibeku kurang popular di Indonesia karena memang tidak diperlukan di daerah tropis. Tetapi di negara-negara beriklim sedang dan dingin, aditif ini sangat membantu terutama saat mesin di-start  pagi hari.
Aditif antibusa dibutuhkan untuk mencegah munculnya buih pada oli akibat putaran mesin tinggi. Adanya gelembung udara akan mengganggu proses pelumasan jika gelembung tersebut menempel pada logam mesin. Logam yang berada tepat di bawah gelembung sama sekali tidak terlapisi pelumas, sehingga pada saat gelembung pecah, logam dengan logam akan saling bergesekan, sehingga mempercepat keausan.
Aditif untuk mempertahankan kekentalan oli mesin diperlukan guna mencegah pelumas mengencer. Pada suhu mesin terlalu tinggi akibat bekerja dalam waktu lama dan pada suhu udara panas (misalnya saat macet), pelumas akan mengencer. Pelumas encer tentu saja kurang efektif menjalankan tugasnya. Karena itulah diciptakan aditif yang dapat mempertahankan kekentalan oli.
Selain itu, ada juga bahan aditif yang berfungsi memperkuat lapisan pelumas oli terhadap logam. Dengan adanya aditif jenis ini, lapisan oli jadi semakin kuat mengikat pelumas pada permukaan logam yang dilapisinya.
Selain oil treatment ada bahan tambahan lain yang disebut engine treatment. Bahan ini berupa  zat atau cairan semacam teflon yang sangat licin. Bahan ini melindungi permukaan logam dalam waktu lebih lama. Untuk menggunakannya, bahan cairan  ini dicampur oli mesin biasa. Setelah itu kendaraan digunakan seperti biasa. Dengan adanya engine treatment ini, oli akan melekat pada permukaan logam. Bahan ini akan melekat dengan sempurna ketika jarak tempuh melampaui 5.000km. Setelah itu, oli dapat diganti seperti biasa. Pada saat oli lama dibuang, zat ini akan tetap melekat pada permukaan logam dan dapat bertahan sampai kira-kira 25.000km.
Tetapi ingat, meski memakai zat ini, oli mesti diganti seperti biasa (setiap 5.000-10.000km). Engine treatment ini ada yang dijual dalam kemasan 300ml, ada juga yang sudah dicampur dengan oli mesin dengan kemasan 1liter.
Bila aditif ditambahkan ke dalam pelumas, sebaiknya dicampur dan diaduk dengan oli mesin terlebih dulu sebelum oli mesin dituangkan ke dalam mesin. Dengan cara ini pencampuran aditif dengan oli lebih sempurna. Namun, sebelum itu dilakukan, spesifikasi pelumasnya perlu dicek terlebih dahulu. Sebab, beberapa merek oli mesin sudah dilengkapi aditif, sehingga tidak diperlukan aditif lagi. Jangan lupa membaca petunjuk pemakaian pelumas pada kemasannya. Yang juga perlu diingat, aditif-aditif tadi bukan untuk memperpanjang usia pelumas. Jadi, jika aditif ditambahkan ke dalam pelumas mesin, penggantian pelumas tetap sesuai jadwal.
Ada juga suatu produk yang disebut engine flush, atau pembersih mesin. Cairan ini berfungsi untuk membersihkan permukaan logam mesin dari pelumas maupun kerak-kerak yang menempel. Cara penggunaannya cukup sederhana. Tuangkan cairan tersebut ke dalam mesin sebelum oli dikeluarkan. Hidupkan mesin selama 10 – 15 menit agar bahan pembersih tersebut bersirkulasi bersama pelumas, melarutkan semua kotoran yang dilewatinya termasuk melepaskan pelumas dari logam mesin. Setelah itu, keluarkan pelumas yang sudah tercampur bahan pembersih itu. Kotoran yang terbawa akan tersangkut di saringan pelumas, sehingga saringan pelumas harus diganti. Pada saat ini Anda dapat pula ganti merek pelumas. Dan, penggantian merek pelumas tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebaiknya mesin dikuras lebih dulu dengan engine flush, sehingga mesin benar-benar bersih dari pelumas lama. Pelumas mesin yang terdiri lebih dari satu macam (merek) daya lumasnya akan  berkurang, karena oli dengan merek tertentu belum tentu dapat bercampur dengan yang lain.
sumber:

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2011 in Paddock

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: